masukkan script iklan disini
Adu domba (memecah belah) secara luas diakui sebagai tindakan yang merusak tatanan kekeluargaan, baik dalam konteks keluarga inti, masyarakat, maupun bangsa. Tindakan ini merusak kepercayaan, menabur kebencian, dan menciptakan konflik di antara individu yang seharusnya saling mendukung.
Provokasi atau tindakan adu domba merusak hubungan tatanan persahabatan dan kekeluargaan. Adu domba
Menghancurkan fondasi kepercayaan dari setiap hubungan yang sehat. Rusakmya fondasi ini, membuat anggota keluarga sulit untuk percaya satu sama lain.
Permusuhan adu domba sering kali menimbulkan perselisihan dan permusuhan yang mendalam, mengubah kasih sayang dan persatuan menjadi kebencian dan perpecahan.
Menghambat komunikasi yang mengakibatkan komunikasi yang efektif terhenti, mempersulit penyelesaian masalah secara damai dan kolaboratif.
Korban adu domba menyebabkan Kerusakan Emosional yang berdampak pada stres, kecemasan, dan trauma emosional yang signifikan. Merusak solidaritas dalam skala yang lebih luas, merusak solidaritas sosial dan persatuan nasional, seperti yang sering terjadi dalam konteks politik atau sosial yang lebih besar.
"Tekanan provokasi adu domba" merujuk pada segala bentuk upaya, pengaruh, atau desakan yang disengaja untuk menciptakan permusuhan, konflik, atau perpecahan antara individu atau kelompok yang semula hidup harmonis.
Ini adalah tindakan yang melibatkan penyebaran informasi, baik benar maupun palsu (hoaks), rumor, atau hasutan yang bertujuan agar pihak-pihak yang menjadi sasaran saling curiga, membenci, dan akhirnya bertikai.
Karakteristik Utama
Provokasi: Adanya tindakan menghasut atau memancing reaksi emosional, sering kali dengan menyebarkan narasi yang keras atau menyesatkan.
Adu Domba (Namimah): Istilah ini secara spesifik berarti menyebarkan berita atau informasi dengan tujuan merusak hubungan dan memprovokasi permusuhan.
Tekanan: Menunjukkan adanya unsur paksaan, intimidasi, atau desakan psikologis yang membuat target provokasi merasa terpojok atau harus bereaksi.
Konteks dan Dampak
Fenomena ini sering kali dipicu oleh iri hati (hasad), kebencian, atau ambisi pribadi dari pihak provokator, dan kini lebih mudah dilakukan melalui media sosial.
Dampak negatifnya sangat besar, dapat merusak harmoni sosial, meningkatkan tekanan psikologis, dan bahkan menyebabkan kekerasan atau kerusuhan.
Untuk menghindari menjadi korban "tekanan provokasi adu domba", masyarakat disarankan untuk:
Tidak langsung percaya, selalu verifikasi informasi yang diterima. Bersikap bijak dan memilah berita dengan cerdas dan tidak mudah terprovokasi. Tidak mendahulukan emosi saat menerima berita yang memicu amarah.
Meningkatkan iman dan takwa membantu mengendalikan penyakit hati seperti iri dan dengki.
Akademisi secara konsisten menanggapi provokasi adu domba dengan menekankan pentingnya persatuan, literasi politik, nilai-nilai Budi pekerti, dan pendekatan berbasis dialog untuk menjaga stabilitas dan kerukunan bangsa.
Melihat provokasi adu domba, sering kali melalui penyebaran hoaks dan politisasi identitas, sebagai ancaman serius terhadap integrasi sosial. Oleh karena itu, kajian akademisi menekankan bahwa nilai-nilai fundamental harus menjadi modal sosial perekat persatuan dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari untuk menangkal upaya perpecahan.
Perlunya peningkatan literasi politik dan media di kalangan masyarakat. Hal ini dianggap krusial untuk membekali publik agar mampu membedakan informasi yang benar (fakta) dari propaganda, hoaks, atau ujaran kebencian yang bertujuan untuk mengadu domba.
Dalam pandangan akademisi juga mengamati bahwa politik identitas adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun politisasi identitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) harus dihindari karena bertentangan dengan nilai-nilai hidup bangsa dan berpotensi menciptakan perpecahan.
Pendekatan Akademisi tentang dinamika isu sosial politik kontemporer, termasuk fenomena hoaks dan konflik politik, untuk menawarkan solusi berbasis data dan fakta. Mengedepankan dialog dan empati untuk mengatasi situasi adu domba dengan penguatan pemahaman, dan dialog konstruktif untuk mengurangi ketegangan dan membuka peluang kerja sama.
Secara umum, kalangan memandang bahwa provokasi adu domba adalah masalah yang kompleks dan memerlukan pendekatan multiaspek, mulai dari penegakan hukum hingga penguatan pondasi sosial dan pendidikan kewarganegaraan, demi menjaga keutuhan.
(My team)

