VERSITNEWS

Selasa, 28 April 2026

Keluhan Pelayanan Bank BJB Kembali Mencuat di Karawang, PERADI Desak Otoritas Jasa Keuangan Turun Tangan








KARAWANG-Keluhan terhadap pelayanan Bank BJB kembali mencuat di wilayah Karawang. Kali ini, seorang ahli waris nasabah, RE, mengaku mengalami kesulitan dalam proses meminta data dan informasi terkait pinjaman atas nama almarhum ayahnya ES di bank tersebut.

RE mengatakan, permintaan data rincian pinjaman—termasuk sisa kewajiban, bunga, hingga histori pembayaran—tidak mudah diakses.

Ia mengaku harus melalui proses berulang, permintaan tidak segera ditanggapi oleh pihak bank.

Ketua DPC Peradi Kabupaten Karawang, Asep Agustian, mengaku prihatin atas mencuatnya kasus dugaan pelayanan buruk yang dilakuka Bank BJB Cabang Karawang.

Menurut Asep, sebagai bank yang saham mayoritasnya dimiliki Pemprov Jabar, Pemprov Banten dan kabupaten/kota se-Jabar “Tanda Mata Untuk Negeri” yang mencerminkan komitmen Bank BJB untuk memberikan kontribusi terbaik, pelayanan prima dan nilai berkelanjutan kepada nasabah, masyarakat dan pemerintah di seluruh Indonesia.

“Slogan itu hebat, tapi saya pertanyakan, pelayanan primanya dimana? Ada juga bintang film Bary Prima. Tapi kan faktualnya kalau dari sumber berita sebelumnya ada keluhan dari ahli waris nasabah ketika meminta informasi data dan informasi atas pinjaman almarhum ayahnya, sulit didapatkan,” kata Askun (Asep Kuncir) kepada delik.co.id, Senin (27/4/2026) sore.

Askun kembali mempertanyakan mengapa baru ketika ada permintaan klarifikasi dari media delik.co.id, pihak Bank BJB memberikan data informasi perjanjian kredit kepada RE.

“Apakah ketika sudah terendus oleh media maka pihak Bank BJB baru bereaksi, sama seperti kasus dahulu ada yang setor uang tengah malam atau dinihari ke Bank BJB. Jadi pelayanan primanya untuk siapa? Jadi kan sudah dipilah dan diskriminatif pelayanannya,” ujarnya.

Atas dasar itu, Askun kemudian mendesak kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memeriksa Bank BJB, dengan slogan yang dimilikinya tetapi pada kenyataannya telah merugikan nasabah.

“Kalau dibiarkan seperti ini terus nanti lama-lama masyarakat menarik uang yang disimpannya di Bank BJB untuk dipindahkan ke bank lain karena pelayanannya sudah tidak prima, tidak punya komitmen sesuai slogan,” ucapnya.

Askun melanjutkan, apalagi ada dugaan pihak Bank BJB mau menjual aset almarhum ES tanpa kesepakatan atau persetujuan dari ahli waris, lalu dikaitkan kembali kabar kredit tanpa agunan tetapi almarhum ES dimintai jaminan agunan.

“Mereka berdalih pakai aturan, pertanyaannya aturan mana yang mereka pakai. Masyarakat mau bayar saja dipersulit setengah mati. Bank BJB ini maunya apa sih? Mau merugikan nasabah atau mau cari panggung atau sensasi. Wajar bila bila ada nasabah yang meminta bantuan kepada media,” tegasnya.

“Petinggi Bank BJB Cabang Karawang agar diperiksa oleh OJK, kenapa selalu ada permasalahan di bank tersebut. Saya bukan mau mengotori atas kejadian ini, karena kejadian (buruk) ini sudah dua kali dilakukan, dahalu soal terima setoran (titipan) di tengah malam, sekarang ada lagi kasus seperti ini, meminta sebatas data saja dipersulit. Data diberikan baru setelah ada permintaan audiensi dari media, jadi sudah salah kaprah,” sambungnya.

Kata Askun, bila OJK punya taring maka periksalah segera Bank BJB dan kepada para nasabah yang punya simpanan atau mau meminjam di bank tersebut untuk berpikir ulang dengan cermat.

“Kasus dialami nasabah almarhum ES harus dijadikan cermin,cerminnya bukan cermin bagus tapi cermin tidak bagus,” ungkapnya sambil mempersilakan kepada pihak Bank BJB untuk menyanggah pendapatnya.

Askun mengingatkan keras kepada Bank BJB tidak bisa melayani nasabah dengan prima sesuai slogannya dan tidak humanis maka diprediksi tidak lama lagi bank itu ditinggal lari para nasabahnya.

“Saya pikir kepada para pejabat Pemkab Karawang, apakah mau berdiam diri ketika melihat nasabah yang notabenenya masyarakat Karawang diperlakukan seperti itu? Tarik tuh semua duitnya (Kas APBD) pindahkan ke bank lain,” pungkasnya. (red). 








KARAWANG-Keluhan terhadap pelayanan Bank BJB kembali mencuat di wilayah Karawang. Kali ini, seorang ahli waris nasabah, RE, mengaku mengalami kesulitan dalam proses meminta data dan informasi terkait pinjaman atas nama almarhum ayahnya ES di bank tersebut.

RE mengatakan, permintaan data rincian pinjaman—termasuk sisa kewajiban, bunga, hingga histori pembayaran—tidak mudah diakses.

Ia mengaku harus melalui proses berulang, permintaan tidak segera ditanggapi oleh pihak bank.

Ketua DPC Peradi Kabupaten Karawang, Asep Agustian, mengaku prihatin atas mencuatnya kasus dugaan pelayanan buruk yang dilakuka Bank BJB Cabang Karawang.

Menurut Asep, sebagai bank yang saham mayoritasnya dimiliki Pemprov Jabar, Pemprov Banten dan kabupaten/kota se-Jabar “Tanda Mata Untuk Negeri” yang mencerminkan komitmen Bank BJB untuk memberikan kontribusi terbaik, pelayanan prima dan nilai berkelanjutan kepada nasabah, masyarakat dan pemerintah di seluruh Indonesia.

“Slogan itu hebat, tapi saya pertanyakan, pelayanan primanya dimana? Ada juga bintang film Bary Prima. Tapi kan faktualnya kalau dari sumber berita sebelumnya ada keluhan dari ahli waris nasabah ketika meminta informasi data dan informasi atas pinjaman almarhum ayahnya, sulit didapatkan,” kata Askun (Asep Kuncir) kepada delik.co.id, Senin (27/4/2026) sore.

Askun kembali mempertanyakan mengapa baru ketika ada permintaan klarifikasi dari media delik.co.id, pihak Bank BJB memberikan data informasi perjanjian kredit kepada RE.

“Apakah ketika sudah terendus oleh media maka pihak Bank BJB baru bereaksi, sama seperti kasus dahulu ada yang setor uang tengah malam atau dinihari ke Bank BJB. Jadi pelayanan primanya untuk siapa? Jadi kan sudah dipilah dan diskriminatif pelayanannya,” ujarnya.

Atas dasar itu, Askun kemudian mendesak kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memeriksa Bank BJB, dengan slogan yang dimilikinya tetapi pada kenyataannya telah merugikan nasabah.

“Kalau dibiarkan seperti ini terus nanti lama-lama masyarakat menarik uang yang disimpannya di Bank BJB untuk dipindahkan ke bank lain karena pelayanannya sudah tidak prima, tidak punya komitmen sesuai slogan,” ucapnya.

Askun melanjutkan, apalagi ada dugaan pihak Bank BJB mau menjual aset almarhum ES tanpa kesepakatan atau persetujuan dari ahli waris, lalu dikaitkan kembali kabar kredit tanpa agunan tetapi almarhum ES dimintai jaminan agunan.

“Mereka berdalih pakai aturan, pertanyaannya aturan mana yang mereka pakai. Masyarakat mau bayar saja dipersulit setengah mati. Bank BJB ini maunya apa sih? Mau merugikan nasabah atau mau cari panggung atau sensasi. Wajar bila bila ada nasabah yang meminta bantuan kepada media,” tegasnya.

“Petinggi Bank BJB Cabang Karawang agar diperiksa oleh OJK, kenapa selalu ada permasalahan di bank tersebut. Saya bukan mau mengotori atas kejadian ini, karena kejadian (buruk) ini sudah dua kali dilakukan, dahalu soal terima setoran (titipan) di tengah malam, sekarang ada lagi kasus seperti ini, meminta sebatas data saja dipersulit. Data diberikan baru setelah ada permintaan audiensi dari media, jadi sudah salah kaprah,” sambungnya.

Kata Askun, bila OJK punya taring maka periksalah segera Bank BJB dan kepada para nasabah yang punya simpanan atau mau meminjam di bank tersebut untuk berpikir ulang dengan cermat.

“Kasus dialami nasabah almarhum ES harus dijadikan cermin,cerminnya bukan cermin bagus tapi cermin tidak bagus,” ungkapnya sambil mempersilakan kepada pihak Bank BJB untuk menyanggah pendapatnya.

Askun mengingatkan keras kepada Bank BJB tidak bisa melayani nasabah dengan prima sesuai slogannya dan tidak humanis maka diprediksi tidak lama lagi bank itu ditinggal lari para nasabahnya.

“Saya pikir kepada para pejabat Pemkab Karawang, apakah mau berdiam diri ketika melihat nasabah yang notabenenya masyarakat Karawang diperlakukan seperti itu? Tarik tuh semua duitnya (Kas APBD) pindahkan ke bank lain,” pungkasnya. (red). 

DPP Partai Gerakan Rakyat Tinjau Budi Daya Melon di Jatisari, Karawang


 Karawang, 28 April 2026 - DPP Partai Gerakan Rakyat melakukan kunjungan pertama ke wilayah Kecamatan Jatisari, Karawang, untuk meninjau budi daya penanaman buah melon, Selasa (28/4/2026).


Turut hadir dalam kunjungan tersebut Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Bekasi BPK Mazhar, dan Pk Budi dari DPP sebagai Ketua Bidang UMKM. Keduanya melihat langsung proses pembibitan hingga hasil tanaman melon sampai panen.


Kunjungan ini bertujuan untuk memantau pengembangan program ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi yang dijalankan kader partai. Rombongan DPP diajak berkeliling ke area penanaman melon dan berdialog dengan para petani yang terlibat dalam budi daya.


Pk Budi selaku Ketua Bidang UMKM DPP Partai Gerakan Rakyat mengapresiasi langkah yang telah dilakukan di Jatisari. "Kami ingin memastikan program UMKM seperti ini berjalan baik dan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain. Dari pembibitan sampai panen, hasilnya cukup menjanjikan," ujarnya.


Ketua DPD Kab Bekasi BPK Mazhar juga menambahkan, sinergi antar DPD penting untuk memperluas program budi daya ini. "Dengan saling belajar, kita bisa kembangkan sektor pertanian dan UMKM kader partai," katanya.


Program budi daya melon ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi kader serta menjadi kontribusi nyata partai di bidang ketahanan pangan.


Ida Maryati 


 Karawang, 28 April 2026 - DPP Partai Gerakan Rakyat melakukan kunjungan pertama ke wilayah Kecamatan Jatisari, Karawang, untuk meninjau budi daya penanaman buah melon, Selasa (28/4/2026).


Turut hadir dalam kunjungan tersebut Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Bekasi BPK Mazhar, dan Pk Budi dari DPP sebagai Ketua Bidang UMKM. Keduanya melihat langsung proses pembibitan hingga hasil tanaman melon sampai panen.


Kunjungan ini bertujuan untuk memantau pengembangan program ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi yang dijalankan kader partai. Rombongan DPP diajak berkeliling ke area penanaman melon dan berdialog dengan para petani yang terlibat dalam budi daya.


Pk Budi selaku Ketua Bidang UMKM DPP Partai Gerakan Rakyat mengapresiasi langkah yang telah dilakukan di Jatisari. "Kami ingin memastikan program UMKM seperti ini berjalan baik dan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain. Dari pembibitan sampai panen, hasilnya cukup menjanjikan," ujarnya.


Ketua DPD Kab Bekasi BPK Mazhar juga menambahkan, sinergi antar DPD penting untuk memperluas program budi daya ini. "Dengan saling belajar, kita bisa kembangkan sektor pertanian dan UMKM kader partai," katanya.


Program budi daya melon ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi kader serta menjadi kontribusi nyata partai di bidang ketahanan pangan.


Ida Maryati 

DPP Partai Gerakan Rakyat Kunjungi DPD Karawang, Tinjau Budi Daya Ikan Lele dan Melon








Karawang, 28 April 2026 - DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang mendapat kunjungan dari DPP Partai Gerakan Rakyat pada Selasa (28/4/2026). Kunjungan ini dalam rangka meninjau langsung kegiatan budi daya ikan lele dan melon yang dikelola oleh DPD Partai Gerakan Rakyat.


Rombongan DPP Partai Gerakan Rakyat tiba di lokasi dan disambut oleh jajaran pengurus DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang. Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau kolam budi daya ikan lele serta kebun melon yang telah dikembangkan sebagai bagian dari program kemandirian ekonomi partai.


Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang, Rachman Gunawan, menyampaikan bahwa budi daya ini merupakan wujud nyata dari komitmen partai dalam mendorong kemandirian pangan dan ekonomi kader. "Kami ingin menunjukkan bahwa partai tidak hanya bergerak di bidang politik, tetapi juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujarnya.


Perwakilan DPP Partai Gerakan Rakyat mengapresiasi langkah DPD Karawang yang telah memulai program budi daya ini. Diharapkan kegiatan serupa dapat dikembangkan di DPD lain sebagai percontohan program ketahanan pangan berbasis partai.


Kunjungan diakhiri dengan diskusi dan ramah tamah antara pengurus DPP dan DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang. 


(Ida Maryati)








Karawang, 28 April 2026 - DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang mendapat kunjungan dari DPP Partai Gerakan Rakyat pada Selasa (28/4/2026). Kunjungan ini dalam rangka meninjau langsung kegiatan budi daya ikan lele dan melon yang dikelola oleh DPD Partai Gerakan Rakyat.


Rombongan DPP Partai Gerakan Rakyat tiba di lokasi dan disambut oleh jajaran pengurus DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang. Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau kolam budi daya ikan lele serta kebun melon yang telah dikembangkan sebagai bagian dari program kemandirian ekonomi partai.


Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang, Rachman Gunawan, menyampaikan bahwa budi daya ini merupakan wujud nyata dari komitmen partai dalam mendorong kemandirian pangan dan ekonomi kader. "Kami ingin menunjukkan bahwa partai tidak hanya bergerak di bidang politik, tetapi juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujarnya.


Perwakilan DPP Partai Gerakan Rakyat mengapresiasi langkah DPD Karawang yang telah memulai program budi daya ini. Diharapkan kegiatan serupa dapat dikembangkan di DPD lain sebagai percontohan program ketahanan pangan berbasis partai.


Kunjungan diakhiri dengan diskusi dan ramah tamah antara pengurus DPP dan DPD Partai Gerakan Rakyat Karawang. 


(Ida Maryati)

Pengendara Alami Kecelakaan Tunggal Saat Hindari Tabrakan di Leuweung Seureuh



 
KARAWANG – Seorang pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan tunggal di wilayah irigasi Leuweung Seureuh, Kabupaten Karawang, pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 14.47 WIB. Insiden tersebut terjadi saat korban berupaya menghindari tabrakan dengan kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan.

Korban diketahui bernama Deni Malik, warga Dusun Pasir Jengkol, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian korban tengah melaju dari arah Bengle menuju jalur keluar irigasi Leuweung Seureuh.

Setibanya di lokasi kejadian, tiba-tiba muncul sepeda motor lain dari arah berlawanan. Untuk menghindari benturan, korban melakukan manuver spontan. Namun nahas, upaya tersebut justru membuat korban kehilangan kendali atas kendaraannya.

Motor yang dikendarai Deni kemudian oleng ke sisi kanan jalan hingga masuk ke dalam lubang di pinggir jalan. Akibatnya, korban terjatuh dan mengalami luka cukup serius.

Saksi mata di lokasi, Roni, seorang pedagang, mengungkapkan bahwa kejadian berlangsung sangat cepat. “Korban berusaha menghindar dari motor lain, tapi langsung kehilangan kendali dan masuk ke lubang di pinggir jalan,” ujarnya.

Akibat kecelakaan tersebut, korban mengalami patah pada jari kelingking kaki sebelah kiri serta luka pada kaki kanan yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut segera memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh pengguna jalan agar selalu berhati-hati saat berkendara, menjaga kecepatan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi jalan maupun kendaraan dari arah berlawanan guna menghindari kecelakaan serupa.


Redaksi 



 
KARAWANG – Seorang pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan tunggal di wilayah irigasi Leuweung Seureuh, Kabupaten Karawang, pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 14.47 WIB. Insiden tersebut terjadi saat korban berupaya menghindari tabrakan dengan kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan.

Korban diketahui bernama Deni Malik, warga Dusun Pasir Jengkol, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian korban tengah melaju dari arah Bengle menuju jalur keluar irigasi Leuweung Seureuh.

Setibanya di lokasi kejadian, tiba-tiba muncul sepeda motor lain dari arah berlawanan. Untuk menghindari benturan, korban melakukan manuver spontan. Namun nahas, upaya tersebut justru membuat korban kehilangan kendali atas kendaraannya.

Motor yang dikendarai Deni kemudian oleng ke sisi kanan jalan hingga masuk ke dalam lubang di pinggir jalan. Akibatnya, korban terjatuh dan mengalami luka cukup serius.

Saksi mata di lokasi, Roni, seorang pedagang, mengungkapkan bahwa kejadian berlangsung sangat cepat. “Korban berusaha menghindar dari motor lain, tapi langsung kehilangan kendali dan masuk ke lubang di pinggir jalan,” ujarnya.

Akibat kecelakaan tersebut, korban mengalami patah pada jari kelingking kaki sebelah kiri serta luka pada kaki kanan yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut segera memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh pengguna jalan agar selalu berhati-hati saat berkendara, menjaga kecepatan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi jalan maupun kendaraan dari arah berlawanan guna menghindari kecelakaan serupa.


Redaksi 

Minggu, 26 April 2026

Mobil Warga Dilempar Batu oleh OTK di Parung Panjang, Kasus Dilaporkan ke Polisi









Bogor, 26 April 2026 — Sebuah mobil milik warga sekaligus anggota Akpersi DPC Kabupaten Bogor menjadi korban pelemparan batu oleh orang tidak dikenal (OTK) pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.


Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Kelapa Ciung arah pabrik batik, RT 01 RW 03 Kampung Baru, Desa Lumpang, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.


Korban diketahui bernama Saman, warga RT 01 RW 03 setempat. Saat kejadian, ia tengah melintas di lokasi pada pagi hari sebelum mobil yang dikendarainya dilempar batu oleh pelaku tak dikenal.


Akibat insiden tersebut, kendaraan mengalami kerusakan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.


Usai kejadian, korban telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Parung Panjang guna ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Hingga saat ini, motif pelaku masih belum diketahui dan dalam proses penyelidikan.


Warga sekitar berharap aparat keamanan dapat segera mengungkap pelaku dan meningkatkan patroli di wilayah tersebut, terutama di jalur yang sepi pada waktu pagi hari, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.


Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat dan pengingat untuk tetap waspada saat beraktivitas, khususnya pada jam-jam rawan.


Sumber rilis Tim Akpersi DPC kabupaten Bogor 









Bogor, 26 April 2026 — Sebuah mobil milik warga sekaligus anggota Akpersi DPC Kabupaten Bogor menjadi korban pelemparan batu oleh orang tidak dikenal (OTK) pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.


Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Kelapa Ciung arah pabrik batik, RT 01 RW 03 Kampung Baru, Desa Lumpang, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.


Korban diketahui bernama Saman, warga RT 01 RW 03 setempat. Saat kejadian, ia tengah melintas di lokasi pada pagi hari sebelum mobil yang dikendarainya dilempar batu oleh pelaku tak dikenal.


Akibat insiden tersebut, kendaraan mengalami kerusakan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.


Usai kejadian, korban telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Parung Panjang guna ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Hingga saat ini, motif pelaku masih belum diketahui dan dalam proses penyelidikan.


Warga sekitar berharap aparat keamanan dapat segera mengungkap pelaku dan meningkatkan patroli di wilayah tersebut, terutama di jalur yang sepi pada waktu pagi hari, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.


Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat dan pengingat untuk tetap waspada saat beraktivitas, khususnya pada jam-jam rawan.


Sumber rilis Tim Akpersi DPC kabupaten Bogor 

Didin Boled Gaungkan Semangat Pembangunan Desa Bersama Nelayan Sungai Buntu










Karawang – Semangat membangun masa depan desa yang lebih baik terus digaungkan oleh Calon Kepala Desa Sungai Buntu, Didin Boled. Melalui pesan yang kuat dan menyentuh, Didin menegaskan komitmennya untuk menjadikan sektor kelautan sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para nelayan.


Dengan mengusung tema *“Bersama Nelayan, Membangun Masa Depan yang Lebih Baik”*, Didin Boled ingin menempatkan nelayan sebagai garda terdepan dalam pembangunan desa. Menurutnya, laut bukan hanya sekadar sumber penghidupan, melainkan juga warisan berharga yang harus dijaga dan dikelola secara berkelanjutan untuk generasi mendatang.


“Laut bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga warisan untuk anak cucu kita. Mari jaga, rawat, dan bangun bersama,” ungkap Didin dalam pesannya.


Sebagai wilayah pesisir, Desa Sungai Buntu memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Namun, selama ini potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal. Didin melihat adanya peluang besar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui penguatan sektor perikanan, peningkatan fasilitas nelayan, serta pengelolaan hasil laut yang lebih modern dan berdaya saing.


Dalam visinya, Didin berkomitmen untuk menghadirkan berbagai program strategis, di antaranya peningkatan akses permodalan bagi nelayan, penyediaan sarana dan prasarana melaut yang memadai, serta pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perikanan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut agar tetap lestari.


“Dari laut, untuk nelayan, kita bangun desa yang sejahtera,” tegasnya.


Tak hanya fokus pada ekonomi, Didin juga ingin menciptakan sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan berbagai pihak terkait agar pembangunan berjalan secara inklusif dan berkelanjutan. Ia percaya bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam mewujudkan perubahan nyata di Desa Sungai Buntu.


Dukungan terhadap Didin Boled pun mulai mengalir dari berbagai kalangan, khususnya para nelayan yang berharap adanya perubahan signifikan dalam kebijakan dan perhatian terhadap sektor mereka. Harapan besar pun disematkan agar ke depan Desa Sungai Buntu dapat menjadi contoh desa pesisir yang maju, mandiri, dan sejahtera.


Dengan semangat persatuan dan kerja sama, Didin Boled mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun desa tanpa meninggalkan siapa pun, terutama para nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi pesisir.


(Red)










Karawang – Semangat membangun masa depan desa yang lebih baik terus digaungkan oleh Calon Kepala Desa Sungai Buntu, Didin Boled. Melalui pesan yang kuat dan menyentuh, Didin menegaskan komitmennya untuk menjadikan sektor kelautan sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para nelayan.


Dengan mengusung tema *“Bersama Nelayan, Membangun Masa Depan yang Lebih Baik”*, Didin Boled ingin menempatkan nelayan sebagai garda terdepan dalam pembangunan desa. Menurutnya, laut bukan hanya sekadar sumber penghidupan, melainkan juga warisan berharga yang harus dijaga dan dikelola secara berkelanjutan untuk generasi mendatang.


“Laut bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga warisan untuk anak cucu kita. Mari jaga, rawat, dan bangun bersama,” ungkap Didin dalam pesannya.


Sebagai wilayah pesisir, Desa Sungai Buntu memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Namun, selama ini potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal. Didin melihat adanya peluang besar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui penguatan sektor perikanan, peningkatan fasilitas nelayan, serta pengelolaan hasil laut yang lebih modern dan berdaya saing.


Dalam visinya, Didin berkomitmen untuk menghadirkan berbagai program strategis, di antaranya peningkatan akses permodalan bagi nelayan, penyediaan sarana dan prasarana melaut yang memadai, serta pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perikanan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut agar tetap lestari.


“Dari laut, untuk nelayan, kita bangun desa yang sejahtera,” tegasnya.


Tak hanya fokus pada ekonomi, Didin juga ingin menciptakan sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan berbagai pihak terkait agar pembangunan berjalan secara inklusif dan berkelanjutan. Ia percaya bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam mewujudkan perubahan nyata di Desa Sungai Buntu.


Dukungan terhadap Didin Boled pun mulai mengalir dari berbagai kalangan, khususnya para nelayan yang berharap adanya perubahan signifikan dalam kebijakan dan perhatian terhadap sektor mereka. Harapan besar pun disematkan agar ke depan Desa Sungai Buntu dapat menjadi contoh desa pesisir yang maju, mandiri, dan sejahtera.


Dengan semangat persatuan dan kerja sama, Didin Boled mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun desa tanpa meninggalkan siapa pun, terutama para nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi pesisir.


(Red)

Rabu, 22 April 2026

Askun Soroti Buruknya Komunikasi DPRD Karawang, Polemik Parkir RSUD Merembet ke Isu Pokir







KARAWANG - Praktisi Hukum dan Pengamat Kebijakan, Asep Agustian SH.MH kembali angkat bicara, terkait polemik usulan parkir gratis RSUD Karawang yang merembet ke persoalan dugaan ijon pokir Anggota DPR Karawang.


Menurut Askun (sapaan akrab), seharusnya persoalan parkir ini tidak akan merembet ke masalah pokir, jika memang para wakil rakyat khususnya para pimpinan di DPRD Karawang memiliki gaya komunikasi yang baik dengan masyarakat.


Askun berpendapat, aksi demonstrasi Ormas GMPI hari ini seharusnya tidak akan terjadi, jika para wakil rakyat sebelumnya pro aktif menanggapi aspirasi Ormas tersebut. Karena ditegaskan Askun, keinginan GMPI sebelumnya hanya ingin menyampaikan aspirasi lewat Rapat Dengar Pendapat (RDP). 


Kemudian, surat permohonan RDP tidak digubris dan akhirnya berujung aksi demonstrasi.


"Saya nilai gaya komunikasi para pimpinan DPRD Karawang saat ini buruk. Apa sih susahnya mereka komunikasi dengan rakyat. Padahal itu kan seharusnya jadi kerjaaan mereka (menyerap aspirasi masyarakat)," tutur Askun, Rabu (22/4/2026).


DPRD Karawang 'Kacang Lupa Kulitnya'


Askun juga menilai para wakil rakyat Karawang hari ini terkesan seperti 'kacang lupa kulitnya'. Yaitu dimana saat Pileg, mereka sibuk mencari simpati dan dukungan masyarakat. Tetapi ketika sudah duduk menjadi wakil rakyat, malah terkesan acuh tak acuh terhadap keluhan masyarakat.


"Jadi mereka ini terkesan seperti lacur pada saat Pileg. Segala cara dilakukan untuk mendapat simpati dan dukungan masyarakat. Tetapi ketika sudah jadi anggota dewan, malah mendadak 'budeg' saat ada mendapat keluhan dari masyarakat," sindir Askun.


Menurutnya, tidak semua wakil rakyat harus menyikapi persoalan parkir dan pokir ini. Karena ditegaskannya, ada pimpinan DPRD Karawang yang terdiri dari ketua, para wakil ketua, pimpinan komisi dan ketua fraksi yang seharusnya bisa menyelesaikan polemik ini.


"Saya tidak ingin menyikapinya lagi dari ranah hukum, karena itu sudah jadi urusan APH (Aparat Penegak Hukum). Tapi saya ingin menyikapi gaya komunikasi para pimpinan DPRD Karawang yang buruk," kata Askun.


"Inget woy!, kalian itu sekarang bisa duduk manis di ruangan AC karena dipilih rakyat. Jika kalian abai terhadap aspirasi rakyat, terus apa yang sedang kalian perjuangkan?. Jika komunikasi saja sulit, ini akan menjadi cacatan penting bagi masyarakat bahwa di Pileg berikutnya kalian tidak perlu dipilih lagi," timpal Askun.


Dari Mulai KIR, Parkir, Pokir hingga Mangkir


Askun mengulas jika persoalan parkir versus pokir ini berawal saat mencuatnya masalah 'layanan parkir berlangganan' yang diterapkan Dishub Karawang, sebagai syarat untuk melakukan Uji KIR.


Sehingga Askun sempat menyebut jika aturan kebijakan ini diduga sebagai bentuk pungutan liar (pungli), karena alasan belum ada dasar hukum yang mengaturnya, baik Perda maupun Perbub.


Kemudian, muncul polemik usulan untuk menggratiskan parkir RSUD Karawang yang diusulkan Mulyadi - Anggota Komisi III DPRD Karawang, Fraksi Partai NasDem.


Usulan ini menjadi pro-kontra, lantaran pengelolaan parkir RSUD Karawang oleh pihak ketiga sudah memiliki dasar hukum dan dinilai sebagai salah satu kantong Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sisi retribusi parkir.


Sehingga akhirnya, usulan tersebut berakhir pada sikap kritis beberapa tokoh dan aktivis pergerakan Karawang yang berpendapat : 'dari pada menggratiskan parkir RSUD Karawang, lebih baik dilakukan efisiensi gaji, tunjangan, hingga pokir Anggota DPRD Karawang'.


Dan dalam perjalanannya, para wakil rakyat Karawang dianggap mangkir dalam setiap menyikapi perkembangan isu parkir versus pokir ini.


"Ya dari mulai masalah KIR, parkir, pokir hingga sikap mangkir DPRD Karawang. Ini semua berawal dari persoalan gaya komunikasi buruk para pimpinan DPRD Karawang," tegas Askun.


Di akhir pernyataanya, Askun mengutip kalimat satir Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) soal sikap mayoritas pejabat yang terkesan 'kacang lupa kulitnya', ketika sudah duduk manis dipercaya menjadi pejabat.


"Ya, bener kata KDM. Saat belum jadi (belum menjabat), orang gila saja ditanya untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Tetapi ketika sudah menjadi pejabat, ditanya jiga nu gelo (ditanya seperti orang gila karena tidak pernah menjawab)," tutup Askun.*** 







KARAWANG - Praktisi Hukum dan Pengamat Kebijakan, Asep Agustian SH.MH kembali angkat bicara, terkait polemik usulan parkir gratis RSUD Karawang yang merembet ke persoalan dugaan ijon pokir Anggota DPR Karawang.


Menurut Askun (sapaan akrab), seharusnya persoalan parkir ini tidak akan merembet ke masalah pokir, jika memang para wakil rakyat khususnya para pimpinan di DPRD Karawang memiliki gaya komunikasi yang baik dengan masyarakat.


Askun berpendapat, aksi demonstrasi Ormas GMPI hari ini seharusnya tidak akan terjadi, jika para wakil rakyat sebelumnya pro aktif menanggapi aspirasi Ormas tersebut. Karena ditegaskan Askun, keinginan GMPI sebelumnya hanya ingin menyampaikan aspirasi lewat Rapat Dengar Pendapat (RDP). 


Kemudian, surat permohonan RDP tidak digubris dan akhirnya berujung aksi demonstrasi.


"Saya nilai gaya komunikasi para pimpinan DPRD Karawang saat ini buruk. Apa sih susahnya mereka komunikasi dengan rakyat. Padahal itu kan seharusnya jadi kerjaaan mereka (menyerap aspirasi masyarakat)," tutur Askun, Rabu (22/4/2026).


DPRD Karawang 'Kacang Lupa Kulitnya'


Askun juga menilai para wakil rakyat Karawang hari ini terkesan seperti 'kacang lupa kulitnya'. Yaitu dimana saat Pileg, mereka sibuk mencari simpati dan dukungan masyarakat. Tetapi ketika sudah duduk menjadi wakil rakyat, malah terkesan acuh tak acuh terhadap keluhan masyarakat.


"Jadi mereka ini terkesan seperti lacur pada saat Pileg. Segala cara dilakukan untuk mendapat simpati dan dukungan masyarakat. Tetapi ketika sudah jadi anggota dewan, malah mendadak 'budeg' saat ada mendapat keluhan dari masyarakat," sindir Askun.


Menurutnya, tidak semua wakil rakyat harus menyikapi persoalan parkir dan pokir ini. Karena ditegaskannya, ada pimpinan DPRD Karawang yang terdiri dari ketua, para wakil ketua, pimpinan komisi dan ketua fraksi yang seharusnya bisa menyelesaikan polemik ini.


"Saya tidak ingin menyikapinya lagi dari ranah hukum, karena itu sudah jadi urusan APH (Aparat Penegak Hukum). Tapi saya ingin menyikapi gaya komunikasi para pimpinan DPRD Karawang yang buruk," kata Askun.


"Inget woy!, kalian itu sekarang bisa duduk manis di ruangan AC karena dipilih rakyat. Jika kalian abai terhadap aspirasi rakyat, terus apa yang sedang kalian perjuangkan?. Jika komunikasi saja sulit, ini akan menjadi cacatan penting bagi masyarakat bahwa di Pileg berikutnya kalian tidak perlu dipilih lagi," timpal Askun.


Dari Mulai KIR, Parkir, Pokir hingga Mangkir


Askun mengulas jika persoalan parkir versus pokir ini berawal saat mencuatnya masalah 'layanan parkir berlangganan' yang diterapkan Dishub Karawang, sebagai syarat untuk melakukan Uji KIR.


Sehingga Askun sempat menyebut jika aturan kebijakan ini diduga sebagai bentuk pungutan liar (pungli), karena alasan belum ada dasar hukum yang mengaturnya, baik Perda maupun Perbub.


Kemudian, muncul polemik usulan untuk menggratiskan parkir RSUD Karawang yang diusulkan Mulyadi - Anggota Komisi III DPRD Karawang, Fraksi Partai NasDem.


Usulan ini menjadi pro-kontra, lantaran pengelolaan parkir RSUD Karawang oleh pihak ketiga sudah memiliki dasar hukum dan dinilai sebagai salah satu kantong Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sisi retribusi parkir.


Sehingga akhirnya, usulan tersebut berakhir pada sikap kritis beberapa tokoh dan aktivis pergerakan Karawang yang berpendapat : 'dari pada menggratiskan parkir RSUD Karawang, lebih baik dilakukan efisiensi gaji, tunjangan, hingga pokir Anggota DPRD Karawang'.


Dan dalam perjalanannya, para wakil rakyat Karawang dianggap mangkir dalam setiap menyikapi perkembangan isu parkir versus pokir ini.


"Ya dari mulai masalah KIR, parkir, pokir hingga sikap mangkir DPRD Karawang. Ini semua berawal dari persoalan gaya komunikasi buruk para pimpinan DPRD Karawang," tegas Askun.


Di akhir pernyataanya, Askun mengutip kalimat satir Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) soal sikap mayoritas pejabat yang terkesan 'kacang lupa kulitnya', ketika sudah duduk manis dipercaya menjadi pejabat.


"Ya, bener kata KDM. Saat belum jadi (belum menjabat), orang gila saja ditanya untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Tetapi ketika sudah menjadi pejabat, ditanya jiga nu gelo (ditanya seperti orang gila karena tidak pernah menjawab)," tutup Askun.*** 

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done